Apabila tingkat konsistensi dan kesahihan data statistik yang disajikan tidak dapat dipertanggungjawabkan akurasinya, akan sangat mempengaruhi kesinambungan perencenaan nasional dan kredibilitas internasional”, unkap Surjadi Sudirja , Mendagri dan Otda (Varia Statistik No. 15 Th. XVIII Mid. September – Oktober 2000).

Itu suatu pujian meski berbuntut ‘ancaman’ dan ‘tuntutan’ akan kualitas data BPS. Sejujurnya saya agak malu, karena masih banyak data BPS yang kualitasnya belum bagus terutama dilihat dari segil konsistensinya. Atau dengan kata kurang konsisten balk konsistensi antar waktu (data series), konsistensi antar sektor (data lintas sektor) dan konsistensi antar daerah (data nasional -propinsi – kabupaten/kota). Konsistensi dituntut tidak hanya pada data nasional, tetapi juga pada tingkat propinsi. Apalagi saat ini gaung otonomi daerah berbunyi sangat kencang, maka konsistensi dituntut juga pada tingkat kabupaten/kota.

Berikut contoh data BPS yang kurang konsisten:

  1. Data nilai tambah sektor industri Pengolahan yang dikeluarkan Industri kurang konsisten dibanding dengan data nilai tambah sektor Industri Pengolahan yang dikeluarkan Neraca. (Tabel 1)
  2. Luas daerah Kabupaten Brebes dalam ‘Kabupaten Brebes Dalam Angka’ tidak sama dengan luasnya dalam ‘Jawa Tengah Dalam Angka’. Demikian juga dengan luas Propinsi Jawa Tengah dalam ‘Jawa Tengah Dalam Angka’ tidak sama dengan daerah ini dalam ‘Statistik Indonesia’. (Tabel 2)
Tabel 1

Tabel 1

Tabel 2

Tabel 2

Dari uraian di atas. Saya mencoba memberi usulan peningkatan kualitas data BPS :

  1. Pelatihan/penyebaran ilmu, teknik, dan metode konsistensi data statistik (Sebagai catatan selama saya di Bagian Evaluasi dan Konsistensi Statistik sampai akhir April 2000, tidak banyak langkah yang dapat dilaksanakan dalam membuat konsistensi data statistik).
  2. Perlunya petunjuk jelas siapa yang melaksanakan kegiatan konsistensi pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota. Tanpa itu mungkin banyak yang saling lepas tangan karena sulitnya pekerjaan ini.
  3. Perlunya konsistensi statistik bukan hanya pada data PDB/PDRB tettapi juga pada data yang lain. Cara-cara seperti yang dilakukan pada PDB/PDRB bisa ditiru dan dilakukan pada data lain.

Saran saya semata-mata didorong kecintaan pada BPS dan keinginan memperbaiki kualitas datanya. Semoga data BPS makin dipercaya, diajdikan rujukan dan berkurangnya keluhan pengguna data terhadap data yang dikeluarkan.

Mohammad Nurdin, S.Si

Staf Produksi BPS Kabupaten Brebes

Sumber : Surat Pembaca Varia Statistik No. 2 Th. XIX Mei – Juli 2001